Di usia saya yang sekarang, berita
kematian seringkali datang. Entah dari kerabat atau kawan lama. Beberapa
bulan lalu, Emak, ibu pengasuh suami saya semasa kecil, wafat. Beberapa
minggu lalu, Pakdhe, kakak ipar ibunda saya pun menyusul. Dan beberapa
hari kemarin, Abdullah, putra seorang sahabat, lebih dahulu
dipanggilNya.
Berita kematian, selalu saja membawa duka.
Mengingat mereka yang telah berpulang membuat saya menitikkan air mata. Ada senyap yang tiba-tiba membelenggu jiwa. Ada yang bak tercerabut dari hati saya. Ketika mengenang wajah-wajah mereka dalam ingatan. Pun saat melewati sejumlah tempat penuh kenangan bersama.
Seperti kemarin.
Saat mengantar risoles pesanan seorang pelanggan, saya melewati KTHO, rumah mbak Ranny semasa masih di UTM. Nuansa berbeda tampak dalam pandangan. Teringat Abdullah kecil berlarian di sana. Dengan senyum yang mencuri hati. Dengan celetukan dan pertanyaannya yang membuat kami terkikik geli. Allah...
Saya menghela napas panjang. Menghentikan mobil sejenak, menyeka air duka.
Lantas terbayang kisah yang sama, bertahun lalu.
Saat itu saya baru saja mendapat berita duka, tentang kepergian sahabat terkasih saya. Cukup lama untuk saya mampu mengeja kepergiannya. Setiap kali pulang kampung, rencana bertemu dengannya selalu menjadi agenda. Bahkan setelah ia tiada. Senyum saya mengembang kala mengingatnya. Tapi itu tak lama, karena ketika saya menyadarinya, hanya air mata yang tersisa. Saya tersadar, ada dinding tebal yang tak mungkin kami lewati. Ada jurang dalam nan terjal pemisah kami berdua. Ia telah pergi, ia tak akan kembali. Tak akan pernah ada canda tawa bersama. Tak akan ada perjumpaan meski semenit jua.
Kematian adalah sunyi
Ia datang tiba-tiba tanpa pernah diprediksi
Ia menyentak,
membuat jantung kencang berdetak
Ia membawa pergi seseorang yang kita kasihi
tanpa pernah memberi kesempatan untuk kembali
Ya, kematian adalah keniscayaan. Ia nyata dan akan datang suatu ketika pada kita semua. Semoga Allah senantiasa membimbing kita di jalanNya, agar kelak syurga menjadi balasan terbaikNya untuk kita, aamiin...
***
Teriring doa untuk Abdullah dan peluk erat penuh cinta untuk mbak Ranny tersayang...
Berita kematian, selalu saja membawa duka.
Mengingat mereka yang telah berpulang membuat saya menitikkan air mata. Ada senyap yang tiba-tiba membelenggu jiwa. Ada yang bak tercerabut dari hati saya. Ketika mengenang wajah-wajah mereka dalam ingatan. Pun saat melewati sejumlah tempat penuh kenangan bersama.
Seperti kemarin.
Saat mengantar risoles pesanan seorang pelanggan, saya melewati KTHO, rumah mbak Ranny semasa masih di UTM. Nuansa berbeda tampak dalam pandangan. Teringat Abdullah kecil berlarian di sana. Dengan senyum yang mencuri hati. Dengan celetukan dan pertanyaannya yang membuat kami terkikik geli. Allah...
Saya menghela napas panjang. Menghentikan mobil sejenak, menyeka air duka.
Lantas terbayang kisah yang sama, bertahun lalu.
Saat itu saya baru saja mendapat berita duka, tentang kepergian sahabat terkasih saya. Cukup lama untuk saya mampu mengeja kepergiannya. Setiap kali pulang kampung, rencana bertemu dengannya selalu menjadi agenda. Bahkan setelah ia tiada. Senyum saya mengembang kala mengingatnya. Tapi itu tak lama, karena ketika saya menyadarinya, hanya air mata yang tersisa. Saya tersadar, ada dinding tebal yang tak mungkin kami lewati. Ada jurang dalam nan terjal pemisah kami berdua. Ia telah pergi, ia tak akan kembali. Tak akan pernah ada canda tawa bersama. Tak akan ada perjumpaan meski semenit jua.
Kematian adalah sunyi
Ia datang tiba-tiba tanpa pernah diprediksi
Ia menyentak,
membuat jantung kencang berdetak
Ia membawa pergi seseorang yang kita kasihi
tanpa pernah memberi kesempatan untuk kembali
Ya, kematian adalah keniscayaan. Ia nyata dan akan datang suatu ketika pada kita semua. Semoga Allah senantiasa membimbing kita di jalanNya, agar kelak syurga menjadi balasan terbaikNya untuk kita, aamiin...
***
Teriring doa untuk Abdullah dan peluk erat penuh cinta untuk mbak Ranny tersayang...
Selalu ada lembar baru
ReplyDeleteBagi jiwa yang mendamba kemurnian
Selalu ada tempat baru
Bagi jiwa yang mengharap kesejatian
Biarkan dia bebas di biru angkasa
Terbang menuju sempurna
Biarkan dia lepas di biru samudera
Menyelami kedalaman makna
Kematian memang meninggalkan duka yang mendalam hingga terasa pahit, tapi itu adalah sebuah kepastian bagi jiwa-jiwa yang dilahirkan, terkadang kita yang ditinggalkan merasa sedih atas kematian seseorang padahal sebenarnya itu adalah takdir Tuhan dan pastilah yang terbaik.
Sayapun pernah merasakan pahit itu ketika Bapak meninggal saat saya duduk di bangku SMP kelas 3, saya juga pernah merasakan getir ketika keponakan yang usianya masih remaja meninggal di RSHS karena kelalaian Dokter yang melakukan malapraktek saat operasi,tapi kesedihan itu lalu hilang saat saya sadar bahwa apa yang ditakdirkan Tuhan adalah yang terbaik bagi orang-orang yang saya cintai.