Bahwa setiap anak lelaki menyukai bola, saya hampir mempercayainya. Buktinya, setiap bertemu bola, anak-anak selalu antusias. Memainkannya meski enggak semahir para pemain bola.
Bahwa setiap anak lelaki suka berantem-beranteman, saya pun hampir mempercayainya. Bahkan Farid, 1 tahun 10 bulan, suka melakukannya bersama Abang dan Masnya. Ia tak peduli meskipun badangnya paling kecil sendiri. Sepertinya, ia merasa cukup besar untuk menjadi 'lawan' Abang dan Mas.
Yang jelas-jelas saya percayai adalah bahwa setiap anak lelaki adalah unik. Mereka punya sifat, karakter, cara tumbuh, cara berkembang dan cara berkomunikasi yang berbeda.
Kali ini, ijinkan saya bercerita tentang Zaki, 6 tahun 8 bulan.
Baby Zaki lahir di RS Al Islam, Bandung, 10 September 2006. Melahirkannya, saya bahkan sempat pingsan akibat tak kuat dengan sakitnya diinduksi. Masya Allah, sebuah pengalaman yang nikmat luar biasa.
Saya terbangun ketika sudah di ruang bersalin. Saya tak sadar saat dipindahkan dari ruang sebelumnya.
Tapi detik-detik melahirkan Zaki adalah yang tercepat. Ia lahir tanpa saya sadari. Bahkan saya tak merasa ia sudah di luar, :-P *gimana sih? hihihi
Zaki sempat kuning karena darah kami berbeda. Inget banget ketika ia tiduuurrr terus pada hari ketiga setelah kelahirannya. Saya merasa senang karena saya kira ia bayi yang anteng, ternyataaa... hiks. Alhamdulillah, ia sehat kemudian. Setelah disusuin dan dijemur.
Zaki tumbuh dan tumbuh. Semasa balita, ia dikenal sebagai anak yang aktif. Bahkan saya sempat khawatir karena beberapa kali kedapatan 'memukul' temannya. Hingga suatu hari ada seorang Ibu yang takut anaknya berdekatan dengan Zaki, :-(
Soal sekolah, berbeda dengan Abangnya yang memulai sekolah sejak umur 3 tahun, Zaki terlambat. Ia baru masuk TK umur 6 tahun. Akibatnya, ia pun terlambat belajar menyesuaikan diri dan bersosialisasi. Sedih rasanya saat mengingat Zaki berjalan terbungkuk-bungkuk karena takut dengan Cikgunya, :'(
Saya bahkan sampai meminta perhatian para Cikgu untuk tidak membentaknya. Takut ia mundur dan tak mau sekolah lagi.
Tadi siang, ketika saya telepon Bapak di Malang, yang pertama kali beliau tanyakan adalah Zaki.
Saya bilang, Alhamdulillah, Zaki sudah jauh lebih baik. Sekolahnya sudah tidak ogah-ogahan lagi. "Ini pasti berkat doa Mbah dari Mekkah," ucap saya menirukan Zaki.
"Alhamdulillah, Bapak doakan betul-betul memang. Tak rewangi nangis ndungakno Zaki, Ar. Sakno. Zaki pasti punya kelebihan. Hanya kalian berdua harus sabar," nasihat Bapak, membuat air mata saya meleleh.
Iya. Kesabaran kami memang lebih sering habis saat menghadapinya.
Padahal ia hanyalah bocah kecil yang belum bisa membedakan salah dan benar --hiks, maafkan kami, ya Nak...
Nasihat Bapak menyadarkan kami, bahwa setiap anak lelaki adalah unik. Mereka memiliki kelebihan masing-masing. Mereka harus dihadapi dengan cara yang berbeda. Cara yang tepat, tentu saja.
Semoga, Allah memudahkan kami untuk menjadi orangtua terbaik bagi tiga anak lelaki yang diamanahkan Allah pada kami. Hingga kami mampu mengantarkan mereka menjadi manusia hebat, yang tinggi derajatnya, mulia akhlaknya dan sehat lahir batinnya, aamiin.
We luv U, Zaki <3
Alhamdulillah, akhirnya bisa ya bu hehhe nice posting bu, semoga Allah mengabulkan doanya ibu dan suami ya, aamiin ya rabbal alamin :-) tinggal posting resensinya bu hhehe goodluck!
ReplyDeleteMakasih sudah mampir dan komen Bu Tutiiii *terharu dapat komen pertama, :-)
ReplyDeleteAamiin...
Semoga Allah senantiasa menjaga anak-anak kita, dan menjadikan mereka khalifah yang adil dan hebat nantinya, aamiin, :-)