Tuesday, 1 October 2013

Nasi Goreng Ayah is The Best

Seminggu ini, menu masakan favorit di rumah kami adalah nasi goreng buatan Ayah. Rasanya sangat istimewa. Gurih, sedikit pedas, lengkap dengan ikan bilis dan telor serta pas di lidah.

"Kok bisa, sih, Ayah bikin nasi goreng, Ma?"

"Enak, ya?"

"Iya. Best! Macam nasi goreng di kedai-kedai, tapi ini lebih sedap!" puji Thariq dan Zaki.

Hmmm... Ayah bisa melayang nih, kalau dengar pujian anak-anaknya seperti itu hehehe.

Sebenarnya, jika nasi goreng ayah terkenal di rumah ini bukan karena Ayah memang pandai dan suka masak. Tapi karena terpaksa. WHAT?!

Ya, dooong..
Ceritanya, malam itu, Ayah kelaparan. Di bawah tudung saji, kosong, tak ada satu makanan pun kecuali sepanci nasi. Mama sedang mengetik di kamar.

"Ma, gorengin nasi, dong," pinta Ayah yang muncul di depan pintu kamar, dengan wajah melas.

"Haduuuhhh... seharian Mama ngider ke mana-mana, capek, lah Yah. Ayah goreng telor aja, biar Thariq yang buatkan," jawab Mama dengan wajah tak kalah melas. (catatan: tidak untuk ditiru oleh seorang istri sholihah, :-P)

Tanpa komentar, Ayah balik ke dapur.

Dua puluh menit kemudian, Ayah datang lagi dengan sepiring besar nasi goreng.

"A! Nih, dah mateng nasinya," ujar Ayah dengan tangan siap menyuapi sesendok nasi goreng untuk Mama.

"Ihhh, kenyang. Ayah makan aja sendiri," tukas Mama sewot. --> akibat kelelahan, jadi pemarah :-)

"Abang mau?" tanya Ayah ke Thariq, yang langsung disambut dengan teriakan senang.

Malam itu, Thariq bilang bahwa nasi goreng Ayah sedap. Tapi belum ada yang tertarik.

Esoknya, kejadiannya sudah berbeda.
Sudah ada bothok tahu ikan bilis di bawah tudung saji, lengkap dengan sayur. Sambelnya Mama masih belum bikin. Sedikit malas karena seminggu sebelumnya masak sambal setiap hari.

Malam-malam bothok kurang seru, lah. Akhirnya Ayah bikin nasi goreng lagi.
Mama nyicip, dan memang sedap. Tapi karena tak terlalu lapar, Mama enggak makan lagi.

Dua hari kemudian, sore sepulang kantor Ayah masak nasi goreng lagi. Padahal sudah ada semur daging dan Ayah serta anak-anak sudah makan, tapi sepertinya masih pengen nasi goreng.

Seperti biasa, tanpa banyak kata Ayah uthek di dapur. Membuat nasi goreng untuk kami.

"Yang banyak, Yah. Mama mau!" teriak Mama dari ruang tamu.

Mama sedang menyuapi Farid dan menemani Zaki yang sedang makan.

Tak lama, Ayah datang dengan dua piring nasi di tangan. Satu untuk Mama dan satu lagi untuk Ayah sendiri. Whoaaa... enak banget! Bahkan Farid pun mau meski sedikit kepedesan.

Thariq habis dua piring, as usual.

Zaki nyicip dikit karena sudah makan semur daging sebelumnya.

Dan kemarin, karena siangnya kami makan di Singgah Selalu, sore tak ada masakan apa pun kecuali sepanci nasi putih.

"Ayaaahhh, bikinin nasi goreng, dong!" teriak Mama dan Iq bergantian. -->tanda-tanda ketagihan

Ayah sedang booking tiket untuk ke Bandung dan bilang, "tunggu."

Sampai dua jam berikutnya, nasi goreng belum mateng juga.

"Ayaahh, laperlah. Buatin nasi goreng, lapeeerrr," pinta Thariq.

"Iyalah, Yah. Mama bikin pesenan untuk Bang Rafi. Bentar lagi mau nenenin Farid. Laper, nih!"

"Alaahhh, kenapalah Ayah sekarang jadi tukang nasi goreng?" jawab Ayah sambil mengupas bawang merah dan bumbu-bumbu.

"Hahaha, salah sendiri. Bikin nasi goreng sedap-sedap," seru kami kompak.

Dan kami pun makan nasi goreng dengan lahap. Mmmmhhh, memang sedap. Masih sisa sepiring, Mama angetin, siap untuk sarapan.

Makasih, Yaaahhh...
Masak terus sampai kami bosan, yaaa... :-P

2 comments:

  1. Ikan Bilis apa mba?Kalau suamiku jago masak mie rebus ^_^

    ReplyDelete
  2. Whoaaaa... Mbak Eni, Makasih sudah mampir, Mbak...

    Ikan bilis itu ikan teri. Hihihi, dulu si mas juga ga bisa mbak. Terpaksa sepertinya, karena istrinya sangat rajin masak *nutup muka pake kukusan :-D

    ReplyDelete