Monday, 16 September 2013

Maaf, Abang Minta Makan...

Setelah Sabtu ke Hutan Bandar Mutiara Rini untuk nemenin anak-anak bersepeda, Ahad sukan di sebelah tasik depan Klinik UTM, hari Senin Mama merencanakan mengajak anak-anak jalan lagi.

Sampai semua siap dan Ayah bertanya mau ke mana, Mama masih belum punya ide.

Setelah di dalam mobil, barulah Mama kepikiran soal keinginan Ayah membeli jam tangan. Biar tepat waktu, kata Ayah. Hohoho, selama ini ke mana saja, Pak? Memang, ya. Mulai menikah hingga 12 tahun pernikahan, Mama bahkan enggak pernah melihat tuh pergelangan Ayah menggunakan asesoris apa pun, termasuk si jam tangan.

"Kemarin kami lihat jam di Adidas, 358, Yah. Cakep, jamnya. Ya, kan, Bang?" celetuk Mama, masih berdiri di luar mobil sementara Ayah di belakang setir.

"Wah, mahal banget! Yang 100-an aja!" kata Ayah. Hmm, si Ayah ini emang suka sungkan sendiri kalau beli barang yang sedikit mahal. Tapi kalau membelikan kami, dia enggak pernah sungkan. *eits, harusnya bersyukur dong, Mbak Ar? hehehe

"Kalau seratusan mungkin nyarinya harus ke Angsana. Di sana ada, kali!" seru Mama sambil membuang seplastik sampah ke tempatnya.

"Enggak mau ke Angsana, ah!" teriak Zaki.

"Nanti aja kalau udah gajian belinya, Ma!" tambah Ayah.

"Ya udah, kalau gitu antar Mama beli JCo aja, ya. Mama keingeta donat greenteanya," pinta Mama. Semua pun setuju dan masuk ke dalam mobil.

Dengan panduan Sygic, perjalanan lancar jaya. Lewat depan hutan bandar lurus terus, belok kiri, kanan, lalu mengelilingi bundaran dan belok kanan lagi, sampailah kami di Aeon Bukit Indah. Wahhh, panas! 3x putaran ke parkir dalam hasilnya nihil. Akhirnya, dapat juga satu parkiran, setelah berebut dengan orang lain. Untung kita berada di posisi yang benar, jadi deh dapat, hahaha..

Sesampai di dalam, seperti biasa, rame banget. Puter-puter... liat laptop, minjem kereta untuk Farid, belanja sayur dan buah, dan tibalah saat untuk pulang. Tepat di foodcourt, Iq berhenti mendorong kereta Farid, :-)

"Ma... !" ucapnya sambil melirik ke foodcourt. "Dulu kita makan di situ, ya?"

"Apa?" tanya Ayah.

"Minta makan di situ, Yah," jawab Mama, menerjemahkan bahasa Iq dan Zaki.

"Ayuk!" ajak Ayah ringan.

Sementara Ayah membeli rujak, Mama dan anak-anak mencari tempat duduk. Alhamdulillah, dapat juga setelah dua kali muter, :-) *dari tadi muter melulu inti ceritanya.

Setelah sepiring nasi goreng pataya terhidang di depannya, Iq nyengir, "Ma... maaf, ya. Abang minta maem. Jadi malu."

Aih... sejak kapan Abang begitu? *mama geli dalam hati melihat wajahnya yang memang benar-benar malu

"Merepotkan Mama saja," lanjutnya.

Mama pengen pingsan rasanya, hihihihi

No comments:

Post a Comment