Wednesday, 4 September 2013

"Pa, Ma?"

Yup! Itulah kalimat yang sering disebutkan Farid jika Mama baru bertemu atau berbicara melalui telepon dengan seseorang.

"Siapa, Ma?" maksudnya begitu, tapi karena ngomongnya masih terbatas, yang terucap hanya belakangnya saja.

Seperti tadi, sepulang Mama dan Farid mengantar kue pesanan ke Bu Renny di U3, di jalan kami bertemu dengan Bu Ika. Setelah salim dan diberi cokelat TOP, Farid pun bertanya, "Pa, Ma?"

Mama pun menjelaskan. Itu adalah Mamanya Bang Zaka, kawan Abang.

"Ayah?"

"Bukan kawan Ayah, tapi kawan Abang," jawab Mama dengan senyum.

Tak lama, kami berjumpa dengan Bu Agus. Kejadiannya pun hampir sama. Dan Mama menjelaskan bahwa itu Bu Agus, kawan Mama. Suaminya, kawan Ayah. Anaknya, kawan Abang.

Setelah selesai mengantar sedikit risoles untuk Bu Rini, dia pun bertanya.

Mama bilang, "Itu Oom Deris, suami bu Rini."

Hehehe, semoga makin shalih dan pintar ya Nak.

Aamiin...

Tuesday, 3 September 2013

Thariq dan Cream Puff

Seminggu kemarin, Thariq datang dengan memberi sebuah kabar. Ia akan berjualan cream puff. Teman-temannya sudah memesan, katanya. Dan Mama diminta membuat 60 pcs cream puff.

Usut punya usut, ternyata Iq sudah membuat selebaran. Semacam promo atau iklan, begitulah. Di dalamnya ada tulisan:

BELILAH, CREAM PUFF PALING SEDAP!
HARGA BIASA SATU KETUL 50 SEN. HARGA PROMO SERINGGIT DAPAT 4.

JANGAN LEWATKAN KESEMPATAN INI!

Mama terbelalak sedikit kaget membacanya. Ahh, Mama aja enggak pernah promo seperti itu, eh, dia pe-de banget! Masya Allah, terharu jadinya.

Karena semangat itulah, meski badan Mama pegel-pegel, Mama bela-belain buat cream puff untuk dibawa pagi harinya. Agak kesiangan bangun, sih. Jam setengah lima baru bangun, hiks. Tapi Alhamdulillah lancar.

Tepat pukul tujuh, 46 pcs cream puff sudah tersedia dalam wadah kedap udara. Iq menentengnya dalam plastik.

Melihatnya berjalan menuju sekolah dengan tas punggung berat dan tentengan segitu banyak, hati Mama terenyuh. Doa pun mengalir, semoga ia menjadi seorang anak yang tangguh dan sukses, aamiin.

Siang harinya, cerita seru mengalir.

"Ma, kedai Abang paling cepat habis. Semua berkumpul di kedai Abang. Sayang, Abang lupa bawa beg plastik. Jadi semua orang makan di tempat, hahahaha. Ada yang tak dapat cream puff dan pesan lagi, Ma. Esok buat lagi, ya! Oh iya, kata teman-teman cream puff emak Thariq paling sedap. Fitria bahkan bilang ke Ustadz. Minta Ustadz mencoba makan cream puff yang dia beli. Kawan-kawan minta esok bawa lagi, Ma. Kalau tak, siap Abang, hahaha!"

Ahhh, senangnya.

Barakallahu, Iq!

Zaki dan Celotehnya

Meskipun sudah hampir tujuh tahun, Zaki tetap lucu. Komentar dan celetukannya seringkali mengundang tawa. Seperti waktu kami dalam perjalanan menuju bandar beberapa minggu lalu.

Saat melewati fly over menuju Singapura, Zaki komentar.

"Singapura. Singanya pura-pura, enggak beneran, ya, Bang?"

Sontak kami tertawa.

Sayangnya, Zaki masih belum berhasil mengatasi moodnya yang terkadang memburuk. Sering marah, teriak-teriak dan menangis.

Semoga dimudahkan menjadi orang yang sabar ya Zak... sehat selalu dan pintar, aamiin.

Encik Farid

Siapa sangka, Farid (2 tahun 1 bulan), sangat menyukai baju melayu. Setiap habis mandi dan dia mendapat kesempatan mengambil baju sendiri, jika si cekak musang ungu ada di jajaran baju-baju, ia akan mengambilnya sambil nyengir, :-)

Meski udara sedang panas, ia betah berbaju melayu. Kalau sudah begitu, pastilah kami berempat gemas melihat tingkahnya, :-D

Baju ini kami beli setengah tahun lalu saat pesta konvo. Waktu itu, kami mengira ukurannya pas. Ternyata, masih kebesaran. Mama harus mengelim tangan dan kakinya agar tak terlalu kedodoran, hehe.

Dan kini, ia punya panggilan baru: Encik Farid.

Sunday, 4 August 2013

Lebaran Ke Tujuh

Langit masih gelap. Adzan Subuh belum berkumandang ketika aku bangun. Suasana hiruk pikuk sudah terasa di dalam rumah sederhana kami. Ibu sedang menyiapkan baju lebaran pesanan orang. "Tinggal ngesum," ujar Ibu sambil terus menisikkan jarum ke tepi kain.

Bapak sedang mandi. Dua adikku sudah bangun dan bergurau di kamar. Suara takbir bergema dari masjid di dekat rumah.

Aku bergegas melanjutkan pekerjaan, tak mau tertinggal sholat Ied. Setelah rumah rapi dan wangi khas obat pel, aku menata kue di meja ruang tamu. Tak banyak. Hanya sekaleng biskuit yang merknya populer di hari raya, setoples kue kering mawar yang memesan di saudara, setoples kacang bawang dan satu wadah plastik permen berbagai rasa.

Dua botol sirup rasa melon dan stroberi di meja makan adalah minuman paling istimewa kami hari ini. Tak lupa aku menyiapkan gelas bersih satu nampan penuh. Biar mudah jika ada tamu yang datang nanti.

Lalu satu per satu dari kami mandi. Bapak paling cepat berangkat sholat. Dengan bermotor, beliau pergi ke Masjid Sabilillah, selepas sholat Subuh. Sementara kami, meski sudah bersiap diri cukup lama, hanya bisa berangkat menjelang sholat Ied diadakan.

Dan kami pun sholat Ied dengan hati riang.

Pulangnya, sengaja kami tak menyalami orang lain. Kata ustadz, orang pertama yang harus dimintai maaf adalah orang tua kami. Tentu kami menyimpan tangan rapat-rapat dan berlari pulang menemui orangtua.

Sesampai di rumah, kami mendatangi Bapak di kamar. Meminta maaf dengan mencium tangan beliau. Hanya itu, tak ada ritual sungkeman. Lalu Bapak mengelus rambut dan ubun-ubun kami, dengan mengucap, "Bapak juga minta maaf. Sebagai orangtua pasti banyak salah yang sudah Bapak buat. Maafkan Bapak. Jadi anak sholeh/sholehah, ya."

Lantas Bapak memberi uang lebaran dari saku baju koko beliau. Kami tertawa riang saat keluar dari kamar beliau dan menemui Ibu.

Biasanya Ibu dalam keadaan duduk saat kami meminta maaf pada beliau. Sama, tak ada sungkeman. Hanya salim dan mengucap minta maaf dengan tulus. Lalu Ibu melakukan hal yang sama seperti yang Bapak lakukan.

Selanjutnya, kami sekeluarga berkeliling. Di kantong kami sudah ada dompet yang siap diisi dengan uang lebaran.

Ah, senangnya...

Tapi itu dulu. Saat saya masih kecil hingga masa kuliah. Sebelum saya memutuskan untuk merantau. Ke Bandung 1997-2007, lantas ke Johor 2007 hingga sekarang.

Dan inilah lebaran ketujuh kami di negeri Jiran. Tak pulang kampung seperti anjuran lagu-lagu raya yang gegap gempita dialunkan di mal-mal di negeri ini. Tak bisa merayakan bersama orang tua dan saudara-saudara tersayang. Dan yang membuat airmata tak berhenti menetes adalah bahwa untuk ketujuh kalinya kami tak bisa memuliakan orangtua kami dengan berlebaran bersama beliau.

Astgahfirullah...

Hanya istighfar yang tak henti kami lantunkan atas kelemahan kami ini. Banyak hal yang menghalangi, termasuk pertimbangan cuti sekolah anak-anak yang teramat pendek untuk balik kampung.

Ya Allah...
Panjangkan umur kami hingga Ramadhan tahun depan dan berikanlah kami kesempatan untuk berlebaran bersama orangtua kami tahun depan dalam keadaan yang lebih berbahagia.

Ya Allah...
Ampunkanlah dosaku dan kabulkanlah doaku, aamiin...






Saturday, 13 July 2013

Bismillah dan Aamiin

Farid, 1 tahun 11 bulan, Alhamdulillah dah makin cerewet. Jika dari setahun dua bulan ia suka ber'heh-heh" tapi gak ber-ooo, sekarang ia nambah kosakata.

Ceritanya empat hari lalu, sebelum nenen, seperti biasa Mama membiasakannya baca basmallah. Alhamdulillah, dia nyahut:

Mama  : Bis
Farid  : millah --sambil mengusap tangan di muka--

aaaahhhh senengnya Mama.

Malamnya pas mau tidur, seperti biasa berdoa dulu.
Farid: mengangkat tangan lalu mengusap muka dengan bilang aamiin

Mama: --teriak-teriak manggil Abang dan Ayah untuk menyaksikan Aamiin pertama Farid..

Tambah pinter ya Nak... aamiin

Thursday, 11 July 2013

Puasa Para Abang

Alhamdulillah, memasuki hari ketiga Ramadhan.

Sejak sebelum Ramadhan, kami sekeluarga *kecuali Farid tentunya*, semua selalu berkampanye soal pentingnya puasa pada Zaki. Maklum, track record Zaki yang sedikit sulit saat bangun pagi dan sekolah sempat membuat kami khawatir.

Dan seperti ketika Thariq belajar puasa dulu, saya pun menawari sekian RM 60 sebagai hadiah jika puasanya penuh, serta mereduksinya menjadi satu ringgit per hari jika ada yang bolong. Mungkin bagi sebagian orang langkah ini tidak dilakukan, tapi untuk anak-anak, cara ini lumayan efektif. Sudah dua Ramadhan ini Thariq sudah memahami bahwa puasa itu wajib dan enggak perlu dibagi duit, :-)

Kembali ke Zaki.

Semakin dekat dengan Ramadhan, semakin gencarlah kami berkampanye soal keuntungan orang berpuasa. Sesekali Thariq meledeknya, meremehkannya dengan maksud untuk melecut semangatnya.

"Zaki pasti enggak kuat puasa. Asyikkk, uangnya buat Abang, ya, Ma!"

Dan Zaki pun marah-marah, mengatakan bahwa ia pasti kuat. Dilihat dari wajahnya, ia tampak kurang yakin, hehehe....

Dan datangnya hari itu: sahur pertama.

Agak sulit membangunkan Zaki, seperti biasanya setiap pagi.

Kami: "Bangun, Zak. Sahur. Sunnah Rasul"
Zaki: "Sunnah, bukan wajib!" --bentak-bentak sambil merem--
Mama: "Eh, marah-marah... hayooo, bulan Ramadhan kok marah-marah."
Zaki: "Enggak Ma." --suara lebih tenang--
Kami: "Ya udah, bangun. Nanti kalau enggak sahur enggak kuat puasa, lho."
Abang: "Sahur itu ada batas masanya, Zaki! Bukannya suka hati!"
Zaki: "Iya.. iya!"

Zaki bangun dengan lemas, duduk dengan mata merem, dan membuka mulut saat disuapi. Alhamdulillah, habis juga sepiring nasi dan ayam yang Mama ambilkan. Ditambah segelas air jus buah dan beberapa teguk air putih.

Pagi itu, Zaki bangun pukul 10.30 dengan wajah ceria. Senyum-senyum. Saat Syauqi memanggilnya, ia pamit mau main sepeda. Saya dan Thariq panik melarangnya.

"Nanti kamu batal puasanya, Zakiiii...!" teriak Thariq.

Zaki sempat memberontak tapi kemudian menurut dan main di rumah bersama Thariq.

Saat saya tawari untuk mandi pas sedang panas-panasnya cuaca *takut dia kehausan* Zaki bilang enggak haus. Saat saya tanya, "Zaki lapar?" Dia menggeleng.

Alhamdulillah, seru saya dengan senyum.

Dua jam menjelang buka.

"Ma, Zaki puasa penuhnya besok aja, ya. Zaki pengen makan brownies," katanya saat melihat saya memotong brownies untuk Farid.

"Ihhh, nanti uang enam puluh ringgitmu terbang, lho, Zaki!" teriak Abangnya dari kamar.

Zaki pun mengurungkan niatnya tapi kembali ingin bermain sepeda dengan Syauqi.

Saya menawarkan solusi lain. Mengajaknya jalan-jalan ke Hutan Bandar, di Mutiara Rini. Dia sepakat.

Kami berangkat menjelang pukul enam dan sampai di sana tepat pukul enam. Anak-anak langsung lari menuju persewaan sepeda. Sayangnya saya lupa mengambil uang. Di dompet tinggal seringgit, karena habis dipakai belanja semalam. Ahhhh, penonton eh anak-anak kecewa.

Untunglah, ada ide dari Zaki untuk jalan-jalan di hutannya. Kami pun berjalan di area hutan, bukan di tempat permainan. Hmm, untuk emak yang sedang menyusui, lumayan juga, boookk! huft, keringetan bikin haus. Tapi maluuuu dong, masak anak-anaknya segar bugar emaknya lemes. Akhirnya, masang wajah senyum meski bibir dan tenggorokan kering kerontang, wkwkwkw.

Setelah berjalan berkeliling, mereka pengen main di playground yang cukup luas dengan permainan yang cukup menantang. Melihat sekeliling, tidak ada satu orang melayu pun kecuali kami. Playground didominasi penduduk China dan India, hohoho.... *ya iya laaahhhh, puasa pertama gitu lhooo*

Dan anak-anak main. Lumayan lama sampai jam tujuh. Kami pun pulang. Rencananya mau muter ke Kedai Nisa dulu beli ice cube untuk es teler di rumah. Alhamdulillah esnya habis, :-P
Keliling kedai lain pun habis, :-P *akhirnya bahan2 es teler disimpan sampai esoknya, hehehe

Sesampai di rumah, sudah mulai gelap. Belum ada suara adzan. Zaki bolak balik ke dapur, melihat satu demi satu makanan yang mau dimakannya.

Dan ketika adzan, langsung makan kurma, minum air mango, makan ayam, minum air putih, minum milo, makan ayam lagi, makan sayur, minum air mango lagi... whuaaaa, ga berhenti-berhenti, hihihihi...

Pun hari kedua, Zaki sekolah dan tidak mengalami masalah berarti. Saat membuka kulkas dia bilang, "sabar ya minuman, nanti aku minum kamu," wkwkwkwkw
katanya lagi, sambil nunggu buka Zaki mau tidur, lalu buka, makan nasi ayam kecap, minum jus guava, minum air putih, makan lagi, minum lagi, gemuk deh!

ahahahaha... semangat anak-anak! semoga tak hanya mendapat lapar dan haus ya sayang... tapi juga mendapat pahala dari sisi Allah, menjadi pondasi kuat agar kalian senantiasa kuat berpuasa di Ramadhan-Ramadhan tahun-tahun berikutnya, aamin... []