Friday, 6 September 2013

Farid Membaik

Alhamdulillah... semua atas kemurahan Allah.

Malam ini, Farid dah enggak muntah lagi. Tidur nyenyak dia. Masya Allah, manis sekali. Barakallahu, Nak,

Tadi, kira-kira jam setengah sebelas, kami ke dokter. Farid baru bangun dari tidur, langsung kugendong dan masukkan mobil. Di dokter, dapat giliran no. 37. Hmm, lama lagi, baru nomor 9 yang dipanggil. Setelah menunggu sampai nomor 10, Farid mulai gelisah. Aku pun memutuskan untuk mengajaknya pulang.

Baru sampai di samping gelas besar, gerimis merapat. Farid muntah. Banyak, seukuran minum air putihnya tadi. Mengenai kerudung dan tasku. Setelah kuusap sisa muntah di mulut dan kakinya, kami pulang.

Sesampai di rumah, ia minta minum lagi. Selain kuberi minum *dua kali ia minta*, ia pun minta makan. Kusuapi, dapat 5 suap. Alhamdulillah.

Lalu lihat Poli Robocar hingga menjelang pukul 12. Tepat pukul 12, kami pergi. Rencanaku, menjemput Iq lalu beli tiket parkir. Setelah itu, menjemput Zaki dengan jalan kaki. Karena sudah lama kutinggalkan, kuminta Iq melihat giliran yang dipanggil. Rupanya sudah nomor 34. Hmm, akhirnya kuparkir mobil dan kugunakan tiket parkir sebelumnya dengan menambal sulam angkanya. Terpaksa. Tak mungkin ke Rainbow karena sudah hampir 37.

Setelah urusan tiket parkir beres, kami jemput Zaki dulu. Alhamdulillah lancar. Saat kami sudah duduk di bangku menunggu giliran, ternyata malah no. 23 yang dipanggil.

Lalu 36.

Dan 37.

Dokter Siti Fatimah menyambut ramah. "Cuaca nih tak bagus, so sakitlah anak dokter, nie, ya!" serunya dengan senyum.

Diperiksa. Dada, ok. Tak ada masalah. Perut, sepertinya ada angin yang tersangkut. Tekaknya rupanya sedang bengkak dan merah. Diputuskan untuk dinebulasi satu kali, lalu dicek apakah suhu tubuh Farid makin naik atau tidak.

Dinebulasi.

Periksa lagi. Alhamdulillah, lendir dah cair. Pernapasan oke, perut oke. Diberi obat sakit tekak/lendir, muntah/angin dan demam.

Sampai di rumah, diminumlah si obat muntah. Sambil nunggu makan, Farid minta minum lagi. Eh, muntah buanyak. Allah... lemes nian anakku.

Lalu suara Ibu terngiang-ngiang, "kasih minumnya dikit-dikit aja!"

Akhirnya kukasih minum air putih lewat pipet. Dan sejak jam 4 tadi, aman terkendali.

Sehat terus ya, Nak... besok ikut liqo ke ammah Jannah, :-)

Thursday, 5 September 2013

Farid Lemes, Hiks...

Tadi pagi, jam 4, Farid muntah. Kupikir, ia kedinginan karena tak pakai selimut sementara AC menyala. Kuselimuti, tak mau. Kutukar bajunya dengan yang lebih hangat, dobel pula. Dia dah mulai senyum-senyum.

Eh, muntah lagi. Kali ini lebih banyak. Sprei pun sampai basah. Sementara Ayah mengganti sprei, kuganti bajunya dan kubalur minyak kayu putih. Masih kurangkap dengan jaket. Alhamdulillah, senyum dia. Nenen dan tertidur dengan pulas.

Pagi, dia bangun lambat. Jam setengah delapan, minta nenen. Pas kuganti, ternyata celananya basah. Oups! Aku lupa kalau tadi belum sempat diberi diapers. *tepok jidat

Akhirnya, kubawa ke kamar mandi. Kubersihkan, tapi tak kumandikan. Setelah diganti baju bersih, ia pun minta minum. Sementara aku bersih-bersih rumah, ia minta disetelkan poli robocar. Rupanya ia muntah lagi, hiks.

Setelah kulap dengan tissue basah dan kuganti, kusetelkan poli di handphone dan kubaringkan ia di kasur.

Aman. Aku bisa nyapu dan beberes sampai tuntas. Setelah selesai, baru ia merengek minta nenen.

Rencananya sebentar lagi kuajak ia ke dokter Siti Fatimah. Semoga lekas sembuh ya, Nak. Mungkin karena semalam makan mie terlalu banyak yaa... Biasanya kan nyicip-nyicip aja. Besok-besok enggak boleh lagi, ya.

Biasanya Mama memang melarang mie dimakan di rumah ini. Tapi Mama pikir, sesekali tak apalah. Eh, Farid yang kena.

Syafakallahu Farid Cinta, <3

Wednesday, 4 September 2013

Farid dan Bisikan

Melihat masa kecil Farid, jadi ingat kecilnya Thariq. Tapi jika dulu Thariq hanya berbisik saat bilang, "Ika" yang maksudnya adalah ikan, Farid beda lagi.

Suka banget berbisik-bisik.

Seperti tadi. Waktu melewati kuda, dia bilang, "Ma... Ma! Aum!" ujarnya sambil berisik dan menutupkan telapak tangannya di mulut. Uhhh, gemesnya!

Kami pun berhenti sebentar. Cute-nya dia, memanggil kuda pun dengan suara lembut, "Hai!"

Ihhhh, makin gemes!

Dan, yang seringkali ia lakukan adalah membisikkan Ayah tentang keberadaan Mama atau sebaliknya. Jika ia bersama Mama, ia akan berbisik, "Ma, Ayah!" sambil menunjuk Ayahnya. Pun sebaliknya.

Ah, Nak... semoga selalu sehat yaa... aamiin.

"Pa, Ma?"

Yup! Itulah kalimat yang sering disebutkan Farid jika Mama baru bertemu atau berbicara melalui telepon dengan seseorang.

"Siapa, Ma?" maksudnya begitu, tapi karena ngomongnya masih terbatas, yang terucap hanya belakangnya saja.

Seperti tadi, sepulang Mama dan Farid mengantar kue pesanan ke Bu Renny di U3, di jalan kami bertemu dengan Bu Ika. Setelah salim dan diberi cokelat TOP, Farid pun bertanya, "Pa, Ma?"

Mama pun menjelaskan. Itu adalah Mamanya Bang Zaka, kawan Abang.

"Ayah?"

"Bukan kawan Ayah, tapi kawan Abang," jawab Mama dengan senyum.

Tak lama, kami berjumpa dengan Bu Agus. Kejadiannya pun hampir sama. Dan Mama menjelaskan bahwa itu Bu Agus, kawan Mama. Suaminya, kawan Ayah. Anaknya, kawan Abang.

Setelah selesai mengantar sedikit risoles untuk Bu Rini, dia pun bertanya.

Mama bilang, "Itu Oom Deris, suami bu Rini."

Hehehe, semoga makin shalih dan pintar ya Nak.

Aamiin...

Tuesday, 3 September 2013

Thariq dan Cream Puff

Seminggu kemarin, Thariq datang dengan memberi sebuah kabar. Ia akan berjualan cream puff. Teman-temannya sudah memesan, katanya. Dan Mama diminta membuat 60 pcs cream puff.

Usut punya usut, ternyata Iq sudah membuat selebaran. Semacam promo atau iklan, begitulah. Di dalamnya ada tulisan:

BELILAH, CREAM PUFF PALING SEDAP!
HARGA BIASA SATU KETUL 50 SEN. HARGA PROMO SERINGGIT DAPAT 4.

JANGAN LEWATKAN KESEMPATAN INI!

Mama terbelalak sedikit kaget membacanya. Ahh, Mama aja enggak pernah promo seperti itu, eh, dia pe-de banget! Masya Allah, terharu jadinya.

Karena semangat itulah, meski badan Mama pegel-pegel, Mama bela-belain buat cream puff untuk dibawa pagi harinya. Agak kesiangan bangun, sih. Jam setengah lima baru bangun, hiks. Tapi Alhamdulillah lancar.

Tepat pukul tujuh, 46 pcs cream puff sudah tersedia dalam wadah kedap udara. Iq menentengnya dalam plastik.

Melihatnya berjalan menuju sekolah dengan tas punggung berat dan tentengan segitu banyak, hati Mama terenyuh. Doa pun mengalir, semoga ia menjadi seorang anak yang tangguh dan sukses, aamiin.

Siang harinya, cerita seru mengalir.

"Ma, kedai Abang paling cepat habis. Semua berkumpul di kedai Abang. Sayang, Abang lupa bawa beg plastik. Jadi semua orang makan di tempat, hahahaha. Ada yang tak dapat cream puff dan pesan lagi, Ma. Esok buat lagi, ya! Oh iya, kata teman-teman cream puff emak Thariq paling sedap. Fitria bahkan bilang ke Ustadz. Minta Ustadz mencoba makan cream puff yang dia beli. Kawan-kawan minta esok bawa lagi, Ma. Kalau tak, siap Abang, hahaha!"

Ahhh, senangnya.

Barakallahu, Iq!

Zaki dan Celotehnya

Meskipun sudah hampir tujuh tahun, Zaki tetap lucu. Komentar dan celetukannya seringkali mengundang tawa. Seperti waktu kami dalam perjalanan menuju bandar beberapa minggu lalu.

Saat melewati fly over menuju Singapura, Zaki komentar.

"Singapura. Singanya pura-pura, enggak beneran, ya, Bang?"

Sontak kami tertawa.

Sayangnya, Zaki masih belum berhasil mengatasi moodnya yang terkadang memburuk. Sering marah, teriak-teriak dan menangis.

Semoga dimudahkan menjadi orang yang sabar ya Zak... sehat selalu dan pintar, aamiin.

Encik Farid

Siapa sangka, Farid (2 tahun 1 bulan), sangat menyukai baju melayu. Setiap habis mandi dan dia mendapat kesempatan mengambil baju sendiri, jika si cekak musang ungu ada di jajaran baju-baju, ia akan mengambilnya sambil nyengir, :-)

Meski udara sedang panas, ia betah berbaju melayu. Kalau sudah begitu, pastilah kami berempat gemas melihat tingkahnya, :-D

Baju ini kami beli setengah tahun lalu saat pesta konvo. Waktu itu, kami mengira ukurannya pas. Ternyata, masih kebesaran. Mama harus mengelim tangan dan kakinya agar tak terlalu kedodoran, hehe.

Dan kini, ia punya panggilan baru: Encik Farid.