Jika saya tahu, mengajarkan disiplin dan tanggung jawab pada anak sesederhana ini, mungkin saya akan melakukannya sejak sebelas tahun lalu. Tapi tak ada kata terlambat bukan?
***
Pagi tadi, Farid bangun dengan senyuman, seperti biasa. Ia berlari-lari mendekati saya yang sedang menggoreng risoles untuk dibawa ke seorang kenalan yang baru melahirkan.
"Assalamu'alaikum, Anak Shalih," sapa saya, lengkap dengan senyum manis.
Farid: *tersenyum* "Mama... mama." *sambil nunjuk sewadah risoles hangat di atas meja seterikaan.
"Tunggu ya, Nak. Masih panas. Farid mandi dulu, ya. Lepas mandi baru maem risolesnya," jawab saya, sambil cuci tangan.
Setelah tangan bersih, saya langsung mengajak Farid ke kamar mandi untuk mandi pagi. Setelah disabun dan bersih, Farid rupanya ingin main air dulu. Saya pun membiarkannya, "Nanti kalau sudah selesai bilang Mama, ya."
"Heh," jawabnya sambil memegang selang air, 'mencuci' segala yang ia lihat.
Saya kembali ke dapur, memanir kroket agar segera dapat digoreng setelah semua risoles matang.
"Maaa...," teriak Farid dengan senyuman, sambil berlari-lari menuju tempat risoles berada.
"Oh iya, tunggu, ya. Ganti baju dulu," saya mengajaknya ke kamar dan memakaikan baju.
Setelah rapi, lagi-lagi saya lupa untuk memberinya risoles. Ia pun kembali berlari mendekati saya yang sedang menggoreng kroket, lalu menunjuk wadah yang sudah ditunjuknya dua kali itu.
Setelah tidak ada reaksi dari saya *takut gosong, booook*, ia menuju rak piring kering, mengambil mangkuk lalu menunjuk risoles.
"Masya Allah, pandainya anak mama!" teriak saya sambil tersenyum bangga *halah, baru nyadar*.
Tanpa menjanjikan apa-apa lagi, saya segera mengisi mangkuk kosong itu dengan risoles dan si bayi 22 bulan saya berlari ke Masnya, minta disuapin.
Sambil menakar tepung untuk brownies, saya teringat tingkah Farid lainnya yang berhasil mengukir senyum syukur. Minum dengan duduk, setiap melihat gunting langsung diserahkan ke saya, memakai sandal saat turun ke halaman, mandi di kamar mandi depan dan BAB di kamar mandi belakang.
Pernah, saat ikut mengaji dengan saya, tanpa sengaja Farid menendang gelas kosong. Tanpa komentar, ia langsung meletakkan gelas ke posisi semula.
Ah... Allah, Alhamdulillah. Betapa bersyukur saya saat ini.
Lalu saya ingat-ingat, apa yang telah saya lakukan hingga ia begitu? Hanya satu, konsisten melakukan kebaikan: mengajarkan, menyuruh dan yang penting memberikan teladan.
Semoga saya bisa istoqomah melakukannya agar kebaikan yang sudah berhasil ia lakukan saat ini, tidak luntur akibat kelalaian saya, aamiin.
Mohon doa ya semuanya, :-)
semoga tetep disiplin, Mbak :)
ReplyDelete