Monday, 9 September 2013

Selamat Hari Lahir, Zaki Hannan

Hari ini, 10 September, tujuh tahun lalu. Mama sedang berjuang melahirkanmu, Nak. Ayah sedang pelatihan outbound di Malang. Tapi ada Mbah Halim, Mbah Uti dan Yang Mi yang menemani Mama di Bandung. Sayang, dengarlah cerita Mama hari ini, :-)

--------

8 September 2006
Mbah Halim, Mbah Uti dan Yang Mi datang ke Bandung. Tampak binar bahagia di wajah mereka saat menceritakan pengalaman di kereta api Surabaya-Bandung. Sementara Ayah sedang mengikuti pelatihan outbound di UIN, tempat kerja Ayah yang baru.

Oh iya, Zak. Ayah diterima kerja di UIN Juni lalu. Setelah wisuda master di UTM Aprilnya. Alhamdulillah, lancar.

Dan selama Mbah di Bandung, hati Mama pun makin tenteram. Ada teman, tak seperti biasanya hanya bersama Abang dan Ibu Enda.

Selain bercengkerama dengan Mbah, Mama juga terus berusaha untuk menyelesaikan tilawah Mama. Janji Mama, khatam dua kali untuk anak kedua.

***
9 September 2006
Mama pikir kamu lahir hari ini, Nak. Seperti tanggal lahir Ayahmu. Rupanya, sampai siang tak ada tanda-tanda itu. Satu juz lagi, Mama habiskan selepas Dzuhur dan Ashar. Setelah melantunkan doa khatam Al Qur'an, Mama melipat mukena dan ke kamar mandi untuk buang air kecil.

Dan Mama terkesiap ketika melihat ada tanda-tanda persalinan. Mama pun keluar kamar mandi dan menghampiri Mbah Uti dan Yang Mi yang sedang di ruang tengah.

"Bu, Mami... ada darah!" ujar Mama dengan hati berdebar.

"Loh, itu tandanya. Ayo, cepet siap-siap ke rumah sakit. Sudah mules?" tanya Yang Mi.

Mama menggeleng.

"Ya udah, tunggu Bapakmu dulu. Nanti baru ke rumah sakit," ujar Mbah Uti.

Mbah Halim sedang ke Masjid. Biasanya selepas Isya baru datang. Nerus, dari sebelum Maghrib. Cara itu beliau gunakan untuk menghilangkan cemas dan suntuk, :-)

"Semoga Bapakmu cepet pulang. Kalau enggak, kalian pergi aja dulu. Nanti Mami suruh Bapakmu nyusul," ujar Yang Mi.

Mama menurut. Mama pun bersiap. Merapikan tas bawaan, baju-bajumu, peralatan mandi, baju Mama dan perlengkapan persalinan lainnya. Tak lupa, Mama menelepon taksi. Tepat saat taksi datang, Mbah Halim datang dari ujung gang. Berjalan sedikit tergesa melihat ada taksi di depan rumah.

"Yok opo? Wis wayahe, a?" tanya Mbah.

"Iya, Pak. Sudah waktunya," jawab Mama.

"Yo, wis! Ayo dibudhalno!" seru Mbah Halim sumringah. "Alhamdulillah, doaku diijabah. Barusan aku berdoa semoga anaknya Ar lekas lahir, lha kok langsung dikasih tanda."

Pamit pada Yang Mie, kami berangkat bertiga. Abang Iq? Di rumah sama Yang Mie. Untung mau, ya. Sudah biasa Mama tinggal kerja dan menginap mungkin, hehehe.

Sesampai di rumah sakit, langsung ke ruang observasi. Di cek baru bukaan dua. "Insya Allah jam sepuluh lahir," kata Bidan senior.

Mama dan Mbah Uti saling berpandangan lalu tersenyum.

"Mau sama kayak jam lahirmu, paling, Nduk," kata Mbah Uti. Iya benar, Mama memang lahir jam sepuluh malam, :-)

Karena waktu masih lama dan pulsa habis, Mama minta ijin untuk ke warnet.

"Silakan. Malah bagus. Biar cepat nambah bukaannya," ujar Bidannya.

Dengan berbaju pasien, Mama diantar Mbah Uti berjalan menuju Metro. Pusat perbelanjaan di sebelah Rumah Sakit Al Islam, Bandung. Masih tertawa-tawa, dong, karena memang Mama tidak merasakan mulas sama sekali.

Mama telepon Ayah. Minta doa semoga persalinan kali ini lancar. Di seberang sana, suara Ayah bergetar. Ada khawatir terselip. Ayah pun minta maaf karena tidak bisa mendampingi Mama.

Setelah selesai telepon, kami kembali ke ruang observasi. Mbah Halim tampak serius menonton televisi. Ada pertandingan tinju dunia. Ah, Mbah.hihihi. Meski begitu, beberapa kali beliau tanya, apa perasaan Mama. Bagaimana rasanya? Sudah dekat apa belum?

Ketika sampai di ruangan, Mama tiduran. Mbah Uti mengusap-usap punggung Mama lembut, memberi kekuatan. Tak terasa, kami tidur berdua. Hingga pukul dua pagi, sama sekali tak ada rasa mulas. Malah Mama tertidur kembali sampai esok paginya, hehehe.

***
10 September 2006
Pukul 04.30 bidan kembali memeriksa. Bukaan masih tetap, belum bertambah. Akhirnya diputuskan didrip alias diinduksi. Menurut Tante Dewi yang pernah merasakan diinduksi saat melahirkan Daffa, induksi itu sakitnya minta ampun. Enggak ada berhenti-berhentinya kayak lahiran normal. Antara takut dan tidak, Mama hanya meringis saat jarum infus menembus punggung tangan Mama.

Ketika infus mulai bekerja, barulah ada rasa mulas.

"Sakit, Bu," keluh Mama pada Mbah Uti.

"Sabar, insya Allah hilang kalau bayinya sudah lahir," sahut Mbah Uti menenangkan.

"Memang ini yang ditunggu, kan?" ujar Bidan dengan senyum lebar.

Sejam kemudian, dicek, bukaan masih dua setengah. Bidan kembali ke ruangannya. Memeriksa pasien lain. Mama yang capek tiduran, jalan-jalan sambil menenteng tiang infus. Menemui Mbah Halim di luar ruangan yang tampak kian cemas.

Jam tujuh pagi, Bidan mengecek lagi.

"Masih dua setengah, tapi sudah tipis," ujarnya. Lalu beliau memutar selang infus, mempercepat turunnya cairan. Sakitnya kian bertambah parah. Karena tak tahan, Mama memutar balik selangnya. Memperlambat tetesan infus dan rasa sakit pun berkurang. Ketika Bidan Senior datang dan melihat tetasan yang melambat, Bidan pun menegur suster.

Hihihi, padahal kan Mama yang bikin ulah, seru dalam hati. Jail, ya? Mungkin ini yang menyebabkan kamu juga jail ya, Nak... hehehehe.

Menjelang pukul sembilan, sakitnya sudah tak tertahan. Mama berulang kali menyebut Asma Allah, beristighfar dan meminta kekuatan. Hingga Mama sempat tak sadar. Tahu-tahu sudah ada di ruang bersalin karena Mama merasa bayi Mama sudah mau lahir.

"Tunggu, Dokter belum datang. Tahan dulu, ya, Mbak. Tarik napas, keluarkan perlahan," titah Bidan Senior.

Mama mengikuti tapi tak tahan lagi. Hingga akhirnya Mama mengedan dan merasa Dokter Lina sudah ada di bawah Mama.

"Tunggu, ya, Dok. Saya istirahat dulu," seru Mama sambil menarik napas.

"Iya, silakan," ujar Dokter Lina sambil tersenyum.

"Sekarang mengedan, ya, Dok?" tanya Mama dan bersiap ambil napas.

"Eh, mau apa?"

"Ya mau mengeluarkan bayinya, lah, Dok. Kok mau apa?" Mama emosi.

"Loh, ini bayinya sudah lahir. Nih, sudah di luar. Cowok, cakep," kata dokter lagi.

Antara percaya dan tidak, Mama tertawa. Ah, mudah sekali lahirnya? Enggak seperti Abangnya dulu, hehehe.

Mbah Uti setia di samping Mama, melihat Mama dibersihkan. Setelah bayinya dibersihkan, langsung diberikan ke Mbah Halim untuk diadzankan.

Seperti biasa, Mama cerewet bertanya ini itu soal bayi Mama. Sehatkah? Normalkah? Sempurnakah? Semua tambak sibuk, membereskan ini itu.

Tak berapa lama, Mama didorong ke ruang rawat oleh suster. Seingat Mama, Mbah Halim yang mendampingi. Mungkin Mbah Uti masih melihat adik bayinya, ya, :-)

Dan Mama tertidur. Mama dengar Suster bilang ke Mbah Halim, "Biar istirahat, Pak. Pasti capek."

Sorenya, sudah ada Mbah Uti dan Mbah Halim di samping Mama. Juga ada Yang Mi dan Abang, yang katanya sudah sempat melihat adik bayinya.

"Abang udah minta maaf karena waktu itu nendang perut Mama," ungkap Abang lembut. Aih, si Abang memang lembut hati, <3

Dan tiga hari Mama di rumah sakit. Saat pertemuan pertama kita, Mama sempat bingung menentukanmu di ruang bayi, Nak. Tebakan Mama salah, dan yang benar ternyata Mbah Uti. Sore itu, pertama kali Mama nenenin kamu. Lucu sekali. Bulat wajahmu dan merah kulitmu.

Di hari ketujuh, kami mengadakan aqiqah.

Saat itulah dirangkai namamu, oleh Mbah Halim.

Zaki Hannan Maulana Karim.
Semoga menjadi putera yang sholih, Nak. Yang bersih hati, pemurah, dan dinaikkan derajatmu menjadi manusia yang mulia, aamiin.

Peluk erat dari Mama, Ayah, Abang Iq dan Adik Farid.
Luv U, Zak.

No comments:

Post a Comment